Matahari bersinar sangat terik saat Icha beranjak pergi dari halte bus itu. “Mungkin bisnya mogok narik kali, neng,” ucap penjaga kios minuman di halte itu. “Masa sih mang? Khan bukannya kemaren tuh baru aja mogok narik?”tanya icha pada lelaki setengah baya itu. “Lha kalo belum dapet yang mereka mau ya pasti mogok lagi, neng,” “Iya ya,makasih ya mang. Saya pulang jalan kaki saja,” “Jalan kaki, neng? Memangnya rumah neng deket yah?” “Jauh seh.Tapi paling nanti cuman sampe perempatan didepan itu.Disana khan banyak bis lain,” kata icha sambil melangkah pergi. Lelaki setengah baya itu cuman mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Icha hanya berpikir dia harus cepat pulang karena perutnya sudah kelaparan. Setelah cukup lama berjalan ke arah perempatan yang dimaksudkannya tadi, icha langsung mencari halte untuk beristirahat.
-------------
Sesampainya dirumah, icha langsung melempar tasnya dan langsung berjalan cepat ke dapur, mencari makanan. “Icha, tadi ada telepon dari Kiki!”teriak mamanya dari ruang tamu. Icha yang sudah siap menyendok nasi langsung diam tertegun. Lalu ia berteriak, “Yakin itu Kiki, ma?” “Iya kok, wong dia sempet cerita – cerita banyak hal ke mama.” “Dia minta kamu telpon dia kalo kamu sudah pulang,”sahut mamanya lagi. Icha masih diam. Icha berpikir bagaimana Kiki yang sudah hampir 5 tahun tidak kelihatan tiba – tiba menelpon ke rumahnya, ngobrol pula lagi sama mama. “Icha?”tanya mamanya. “Iya ma?” “Kok bengong gitu?”tanya mamanya yang tiba – tiba sudah ada disebelahnya. “Icha mau telpon dulu deh, ma,”jawab icha sambil setengah berlari ke ruang tamu. Masih setengah tidak percaya, icha memutar nomor telepon. “Halo?”tanya cowok diseberang sana. “Halo, bisa bicara dengan Kiki?”tanya icha pelan. “Icha ya? Ini kiki, cha!Lama banget deh loe pulang. Udah gue tungguin dari tadi tahu!”teriak suara itu yang perlahan menjadi sangat akrab di telinga icha. Icha kaget, tidak menyangka cowok itu benar - benar menunggu telponnya “Eh, kiki. Iya,ada apa yah?” “Ya ampun, non! Kok jadi formal getuh sih? Nyantai aja lagi.Gue kangen aja sama loe.” Icha masih kanget, bagaimana mungkin kiki bisa merindukan dirinya. Padahal…. “ICHA!Kebiasaan deh loe.Bengong melulu.Gue pengen ketemu loe, non,”sahut kiki. “Iya iya.Rese deh, baru nongol udah ngeledekin gue!” sahut icha dengan penuh emosi. Icha bingung kenapa dia jadi emosian begini. “Nanti jam setengah empat aku ke rumahmu ya,”tanya kiki. “Setengah empat? Jangan dirumah. Di tempat biasa aja,”usul icha.Tempat biasa, pikir icha, tempat dulu dia dan kiki menghabiskan waktu bersama. Sebuah taman kecil di samping mesjid itu. “Ya udah,setengah empat di tempat biasa. Yang cantik ya!”sahut kiki riang. Mendengar suara kiki yang riang, icha tersenyum, membayangkan raut wajah bekas kekasihnya itu. “Iya kiki,”ucap icha pelan. “Ya udah, see you later dear,”ucap kiki sebelum dia menutup telponnya di seberang. Icha kaget lagi. Apa dia tidak salah dengar kiki mengucapkan dear, pikirnya. Aku salah denger kali, pikir icha sambil garuk – garuk kepala.
-------------
Pukul 3, icha sudah mematut-matut dirinya di depan cermin. Aku ingin tampak cantik didepan kiki, pikir icha riang. “Icha, kamu mau bertemu dengan kiki ya?”tanya mama yang sudah ada di depan pintu kamarnya. “Iya, ma” “Dia kangen sama kamu tuh,” mamanya tersenyum. Icha tersipu malu, lalu mamanya meninggalkannya melamun sendiri. Icha teringat saat dia pertama kali bertemu kiki di halaman kampusnya. Saat kiki yang idola kampus dengan wajah memerah menyapa dirinya. Saat kiki mengajaknya pacaran. Saat kiki…. “Icha, bukannya kamu mau ketemu kiki? Telat ngak tuh?”teriak mamanya. Icha tersadar. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga lewat 20 menit. Icha panik. Ia langsung mengambil dompetnya lalu tergopoh – gopoh keluar kamar. “Icha pamit dulu ya,ma!” teriak icha setelah ia diluar rumah. “Hati – hati, cha!” Di sepanjang perjalanan icha cuman memikirkan semoga ia tidak terlambat sampai di tempat itu. Sesampainya di taman itu, icha belum melihat sosok kiki. Dia menarik nafas, lalu duduk di tempat terdekat. “Icha!”teriak seseorang yang sudah ada di belakangnya. Icha menoleh. Melihat sosok yang hampir tak dikenalinya, icha menahan nafas. “Icha? Kok diem aja sih? Ngak suka liat aku ya?” tanya sosok itu. Icha masih terdiam, lalu tiba – tiba ia menangis dan memeluk sosok itu. “Kiki, kamu kemana aja sih? Lima tahun ngak ngabarin aku,” ucap icha dalam tangisnya. Kiki tertegun. “Aku kangen sama kamu tahu. Kamu tega banget ih ninggalin aku begitu aja.” Kiki tersenyum lalu membelai rambut icha yang pendek itu. “Maafin aku, cha. Aku pergi bukan tanpa alasan. Maaf,”ucap kiki. “Kenapa kamu ninggalin aku, ki?”tanya icha masih sambil menangis. Kiki diam, lalu mendorong tubuh icha perlahan. Menatap icha dengan tatapan yang sama 5 tahun lalu. “Ki?”tanya icha khawatir. “Ngak apa – apa kok. Besok akan aku ceritakan ke kamu,” ucap kiki sambil menyeka air mata icha. “Sekarang aku cuman pengen melepas kangenku sama kamu. Aku janji besok akan aku ceritakan semuanya.Oke?” “Ya udah kalo itu yang kamu mau, ki,”jawab icha pelan. Icha duduk diikuti dengan kiki disampingnya. Tangan kiri kiki merangkul bahu mantan kekasihnya itu, sementara tangan kanannya merogoh sesuatu dari kantong celananya. Terlihat sebuah kotak beludru kecil berwarna biru kesukaan icha. Icha tersenyum, lalu bertanya, “Itu buat aku yah?” “Iya sayang. Buat kamu. Aku harap kamu suka,” kata kiki sambil membukanya. Tiba – tiba icha terpekik, “Itu benar – benar buat aku, ki?” tanyanya. Kiki mengangguk dan tersenyum. “Aku masih ingat kok, cha,”ucap kiki. Icha tak habis pikir. Kiki masih mengingat cincin perak bermata biru, tanda dia mengikat janji dengan kiki dahulu. Sebelum kiki pergi tanpa kabar. “Maaf,” ucap icha, “Aku pikir cincin itu sudah hilang saat aku lempar dahulu.” “Dulu, saat terakhir kita bertemu, saat kau marah – marah dan melempar cincin ini, aku sangat sedih. Dan saat kau pergi, aku langsung mencarinya berharap pada saat pertemuan berikutnya aku bisa mengembalikannya padamu,” “Maaf,”ucap Icha. “Tak disangka kita baru bertemu lagi 5 tahun kemudian,” ucap kiki sedih. Icha merasa jadi ingin menangis lagi. Kiki tahu itu, tangannya langsung membelai wajah mungil icha. “Aku sayang kamu, cha,” “Aku juga sayang kamu, ki. Jangan pernah tinggalin aku lagi ya,” ucap icha. Kiki mengambil cincin itu dari kotak, dan mengenakannya ke jari manis yang pernah memakainya selama 3 tahun. “Jangan pernah lupakan bahwa aku sayang kamu, cha.”
----------
Di dalam kamarnya icha masih asik melamunkan kejadian sore tadi. Singkat, tapi sangat indah. Icha memandangi cincin biru di jari manisnya itu. Masih terngiang – ngiang yang diucapkan kiki padanya. Kiki masih sayang padanya. Mungkin jika tanpa cincin biru itu, icha masih akan meragukan perasaan kiki padanya setelah ia meninggalkan icha selama 5 tahun. Icha juga masih ingat bagaimana kiki menciumnya tadi. Masih berbekas di bibirnya. “Icha, kamu belum makan malam khan. Sudah malam lho,” tanya mamanya dari balik pintu kamar icha. “Iya ma, sebentar lagi aku keluar,” jawab icha. Lalu icha bangkit keluar kamar, sementara telpon berdering. Icha yang saat itu di dalam dapur mendengar mamanya yang mengangkat telpon itu. Icha sempat mendengar nama kiki disebut mamanya. Takut, khawatir tiba – tiba menyelimuti perasaannya. Ya tuhan, semoga kiki baik – baik saja, ucap icha dalam hati. “Icha, sini sayang,”panggil mamanya. Icha makin takut. “Iya, ma,”sahut icha sambil menghampiri mamanya. Icha melihat mamanya tampak tenang. Mungkin tidak ada apa – apa, pikir icha. Icha duduk di samping mamanya. “Kamu ingat yogi khan?” tanya mamanya. Icha bingung, apa hubungan yogi dengannya. “Iya ma,”ucap icha bingung. “Tadi yogi telpon, mengabarkan kalau kiki ada di rumah sakit,” Icha panik. Kiki di rumah sakit, mana mungkin, tadi dia baik – baik saja, pikir icha, bohong pasti ini. Tapi mama tidak mungkin berbohong, pikir icha kembali. “Cha, yogi cerita tadi, kalau kiki sudah meninggal dunia,”mamanya menambahkan. Sesaat icha merasa waktu berhenti. Semua hanyalah mimpi belaka, pikir icha. Lalu semuanya menjadi gelap.
----------------
Pagi itu, icha menemukan sepucuk surat di depan pintu kamarnya. Surat dengan tulisan icha di depan amplopnya. Dibukanya surat itu, berharap itu surat dari kiki, mengatakan bahwa kiki sehat – sehat saja. Icha membaca surat itu perlahan, lalu ia menangis sekeras – kerasnya. Berharap waktu kan berputar ke masa sesaat sebelum kiki pergi……….
-------------
Dear icha, Mungkin pada saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada. Namun kini aku ingin menepati janjiku padamu, akan kujelaskan mengapa 5 tahun lalu aku harus meninggalkanmu. Tepatnya seminggu sebelum kita bertengkar hebat, aku diberitahu oleh dokter tempat aku cek up dulu bahwa aku memiliki kanker. Maaf jika aku baru bisa memberitahumu. Aku bingung bagaimana harus memberitahumu, aku hanya tidak ingin membuatmu sedih. Oleh karena itu, aku berusaha menyembuhkan penyakitku ini, aku pergi berobat tanpa kau ketahui. Berbagai macam pengobatan aku rasakan. Makanya saat kita bertemu lagi, aku sudah tidak seperti dulu lagi khan. Aku hanya ingin bersamamu selamanya, aku tidak ingin sakit lagi. Namun, kanker ini terlalu ganas. Aku sadar, mungkin waktuku tak akan lama lagi. Itulah mengapa aku kembali ke jakarta. Menemuimu lagi, walau entah untuk berapa lama. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Aku hanya ingin bisa melihat wajahmu yang lucu itu sekali lagi. Aku ingin mendengar suaramu yang cempreng itu lagi. Dan yang pasti, aku ingin mengatakan untuk terakhir kalinya, bahwa aku akan selalu menyayangimu dan mencintaimu. Maaf jika aku tidak bisa ada disampingmu saat kau menangis. Aku hanya ingin kau berbahagia. Kenanglah aku. Tapi jangan lupa bangkit ya,cha! Aku mencintaimu yang begitu tegar, ingat itu! Hidupmu harus berjalan kembali. Walau tanpa aku. Jagalah ibumu. Janji ya cha, bahwa kau akan selalu tegar walau tanpa aku. Jalanilah hidupmu sampai bagianku. Tidak apa kau melupakanku suatu hari nanti, asalkan kau bahagia. Hanya ingin kau bahagia selalu sayang. I Love You always!
Yang akan selalu mencintaimu Kiki
Labels: cinta, surat |
wuaahh.. Sediih.. Knapa harus mati c.. Hehe..
Ga bniat bikin n0vel mba?
Apa udah y? ;p
Bru mampir niy..
Slam knal y..