About Me
Name: sampiran
Home:
About Me:
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Gelap itu indah, keindahanku adalah gelap.
Ia kan menelanmu hingga tak berbentuk.
Menenggelamkanmu dalam bayangnya.
Hingga terbangun dari mimpi.
Cintaku gelap.
Dalam gelaplah aku mencintai.
Hingga terang itu tiba.
Dan cintaku haruslah lenyap.

Links
Powered by



Isnaini Dot Com

BLOGGER

 

 

 
  Friday, November 2, 2007  
 
 
SEMUA AKAN BAIK –BAIK SAJA

Kamarku tercintah, 5 hari sesudah valentine, menjelang siaran yudha habis.
Dear diary,
Met malem diarikuh tercintah juga. Hari ini tuh bisa dibilang hari yang gila deh. Banyak hal terjadi hari ini. Padahal semalem aku tuh ngak mimpi apa – apa. Wong aku tidurnya nyenyak kok. Ngak nyangka ajah kalo hari ini banyak kejadian. Dan aku pasti akan ceritain dengan lengkap buat kamu deh. Ngak usah takut ketinggalan cerita aku hari ini.
Begini ceritanya,
Pagi tadi pas aku bangun, tiba – tiba…
“Jeniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Kesini kamu!” teriak papi mengagetkan aku. Aku langsung dengan cepat berlari ke ruang makan dimana semuanya sudah memasang tampang kesal.
“Ada apa pi?”tanyaku pelan. Pasti gara – gara tagihan telpon itu, mati aku@%#$!
“Lihat ini! Semuanya nomor yang sama!Kamu itu!” teriak papi lagi.
“Iya nih, udah tahu telpon mahal sekarang,”sambar , kakakku Joe yang paling rese itu. Huh!
“Nomor apaan sih pi?” aku pura – pura tidak tahu.
“Ini!Lihat ini!”teriak papi menyodorkan berlembar lembar kertas padaku. Aku pura – pura membaca kertas – kertas itu.
“Kamu pikir papi ini pabrik uang yah!!!” Muka papi makin memerah. Aku pasti dihukum kali ini…
“Ya bukan lha pi,” jawabku lemas. Aduh, aku pasti mati kali ini. Kak Joe juga tertawa – tawa saja di belakang papi. Sialan dia.
“Papi nggak pernah melarang kamu telepon, tapi kira – kira dong. Ini nomor telpon siapa?” tanya papi mencoba sabar denganku. Aku diam takut bicara. Pasti kalau aku beritahu itu nomor telpon stasiun kesayanganku, bisa – bisa aku dilarang dengerin radio pula.
“Itu nomor telpon stasiun radio kesayangan Jeni, pi!”teriak kak Joe.
Aduh, kak Joe kok bilang sih.
“Apa? Stasiun radio? Memangnya kamu pacaran sama penyiarnya yah sampai sebanyak ini?”tanya papi makin marah. Aku mengangguk saja. Berharap papi akan mereda.
“Manda hanya suka ikut merespon acara di stasiun radio itu saja pa,”bela mama yang sedari tadi diam, “Sabar pa, ingat tekanan darahmu.”
Huh, untung mama membelaku. Tidak seperti kak Joe.
“Ya sudah, tapi papi tidak mau ini terulang lagi. Dan sebagai hukumannya, hari ini radio kamu papi SITA,”ucap papi mengejutkan aku. Tidak boleh dengerin radio? Hukuman apapun ngak apa – apa deh, asal jangan itu. Aku bisa mati bosanan kalau papi benar – benar menyita radioku.
“Pi,” ucapku.
“Tidak, papi sudah memutuskan!Ya sudah, kamu berangkat sekolah sana!Nanti terlambat lagi,”ucap papi menutup keputusan hukumanku.
Aku langsung mengambil tas ku, dan berjalan gontai.
Di depan tukang becak tua itu telah menungguku untuk mengantarkan aku ke sekolah.
Tak habis pikir, papi kok bisa – bisanya menghukum aku dengan itu. Biasanya paling – paling aku disuruh menemani kakekku memancing. Huh, memancing memang membosankan, tapi lebih membosankan jika aku tidak bisa mendengarkan radio.
“Sudah sampai, non,”kata tukang becak menyadarkanku.
“Oh ya, ini uangnya mang,”jawabku sambil menyerahkan selembar lima ribuan.
Lemas rasanya kakiku ini melangkah ke sekolah. Jadi malas banget, pikirku.
“Jen, tebak tadi siapa yang nanyain kamu?”seru Icha sahabatku yang tahu tahu sudah ada di depanku. Aku menggelengkan kepala.
“A.L.D.O !!”serunya kembali. Aku yang tadi lemas, rasanya semangat lagi. Aldo, cowok keren di kelas sebelah itu menanyakan diriku.
“Jenifer, kok kamu nggak diem aja sih?”tanya Icha bingung. Aku jadi bingung sendiri. Padahal Aldo itu gebetanku yang paling yahud, dan dia mencari aku. Tapi kenapa aku rasanya jadi datar begini. Tidak seperti kemarin kemarin...
“Sumpah deh..kamu itu kesambet setan mana seh? Aku dicuekkin begini,” omel Icha.
“Aih..maap maap, Cha! Aku lagi bete banget nih..”sahutku.
“Kenapa lagi sih? Paling-paling tagihan telepon khan? Tiap bulan selalu sama tahu!! Dan tiap bulan pasti ada 1 hari kamu kesambet,”omel Icha.
“Hahahahahahahaha!!! Icha kamu lucu banget!” kataku geli melihat tampangnya sohibku satu itu. Eh, tapi dia langsung makin cemberut mendengar tawaku.
“Eit...eit...maap non. Habisan kamu lucu banget kalau ngomelin aku,” kataku.
“Serah deh..tapi for your information only..Aldo itu nitip salam buat kamu,” sahut Icha masih dengan gaya ngambeknya.
“MALESSS!!!” sahutku kencang.
Setelah itu bel berbunyi kencaaaaaang sekali. Tapi yang membuat aku sebal, bel itu ada di atas telingaku...

-o0o-


“Jeeeeeeeeeennnnniiiiiferrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!” teriak Icha dari depan pintu kelasku.
“Kamu ngak mau pulang yah? Udah sepi begini masih ngendon di kelas. Jangan-jangan kamu kesambet setan matematika itu yah!!”omel Icha.
“Bukan getu, Cha. Aku bete banget nehh,” keluhku.
“Lha kok makin bete sih? Kurang cukup yah si ganteng itu ngehibur kamu dengan senyumnya yang manis,” gurau Icha. Ganteng? Iya sih..matematika..dengan gurunya yang ganteng banget itu lumayan bikin aku terhibur. Tapi radio yang disita, bel bodoh yang membuatku tuli sepanjang kelas bahasa membuat aku ditertawakan sekelas, belum lagi tadi tiba-tiba aku ditinggal ke puncak sama keluargaku. Huh! Sebelll banget...rasanya sial terus hari ini.

“Sial sial....!!!”umpatku. Benar – benar sial aku hari ini, becak yang tadi kutumpangi jatuh ke selokan. Hanya gara – gara kaget lihat kucing melintas katanya. Rese..rese banget hari ini.
Aku langsung mandi, membersihkan diri dari bau busuk itu...
KRINGGGG!!!!!! Suara telepon nyaring.
“Halo?”tanyaku segan.
“Nona Jenifer Simatupang, jangan lupa kirim puisi kamu itu yah!” ucap suara cempreng di sebrang.
“Iya ibu Icha...” jawabku.
“Ya udah..dagh!” sahut Icha langsung menutup telponnya.
Huh! Dasar Icha. Dia pikir aku lupa apa. Tentu saja aku akan kirim puisiku itu ke acaranya Yudha. Tapi, aku ingat ingat, hari ini khan aku tanpa radio. Bagaimana yah? Pikirku.
Ah biarlah, aku nekat kirimkan saja.

Dear Yudha,
Malam ini aku hanya ingin mengirimkan puisi ini untuk teman-teman, hope you’ll like it.


HINGGA NANTI
Hujan turun membasahi bumi,
Seakan hapuskan kesedihan,
Hancurkan semua penderitaan
Walau hanya sekejap

Mentari bersinar
Terangi semua jiwa
Bimbing tiap hati yang tersesat
Walau hanya sementara

Jangan takut
Jangan menangis
Jangan bimbang
Janganlah merasa kesepian

Karna aku kan selalu ada
Walau hujan tak lagi turun
Walau mentari tak lagi bersinar
Hingga dunia tak lagi berputar

Thanks
-Luv-
Jennifer


Dan aku pun kirimkan puisi itu. Feeling hopeless. Rasanya tidak seru kalau kirim puisi, tapi tidak bisa mendengarkannya dibacakan Yudha.
TING TONG TING TONG TING TONG!!! Bel depan rumah berbunyi...
“BI IFA!!!!! Tolong bukain pintu depan!!! Siapa tahu papa pulang bi!” teriak aku.
“Iya non!” sahut bi Ifa.
Pokoknya kalau papa yang pulang, aku mau merajuk saja! Lihat saja, ini sudah jam 10 malam, acara Yudha sudah hampir setengah jalan...
BOSANNNN!!!!!
“Non, bukan bapak, tapi Mas Joe yang pulang,” ucap bi Ifa menjelaskan. Kak Joe? Mana mungkin dia mau pulang sendirian tanpa mama dan papa. Pasti bawa pacarnya..mentang-mentang tidak ada papa dan mama. Huh!
“Kak Joe datang sama siapa? Sama pacarnya yang lenje itu yah? Si Indira?” tanyaku sebal.
“Bukan non. Bibi tidak kenal teman-temannya itu,” jawab bi Ifa langsung ngeloyor ke dapur.
“Yeee si bibi. Malah masuk ke dalam,” sahutku kesal. Kak Joe datang sapa siapa pula? Teman-temannya yang mana pula yah? Setahu aku teman-temannya tidak ada yang pernah datang malam malam begini...
“Kak JOE!!!” Aku pun langsung keluar. Hah? Siapa itu? Aku tidak melihat jelas teman kak Joe itu, sepertinya baru kali ini.Mungkin teman baru kali yah. Pikirku ragu.
“SURPRISE!!!” teriak Kak Joe. Surprise? Surprise apaan? Bingung aku dibuatnya.

Dan kamu tahu diary? Ternyata kak Joe datang bersama Imam Wibowo, wadyabala PRAMBORS yang paling ‘mature’ sambil membawakanku radio kesayanganku. Ternyata papa mengirimkan email ke catatan malam hari mengatakan ingin Delivery Service khusus untuk aku. Dan kamu tahu diary, ternyata aku salah menilai keluargaku. Mereka lebih perhatian daripada yang kusangka.
Akhirnya kamu tahu, malam ini setelah mengalami kesialan seharian, ternyata radioku kembali, aku bisa juga ON AIR di acaranya Yudha dan bertemu Imam Wibowo. Senangnya hatiku, ternyata semua berakhir baik-baik saja.
Kira kira besok ada kejutan apa lagi yah diary??Can’t wait for tommorrow

-Nite-
Jennifer

Labels: , ,

posted by sampiran @ 6:05 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home